Minggu, 27 Desember 2015

Dari Catatan Gadis Kecil

My Weird Dream!!! O.o

Umm, sekarang hari apa yah??

Hari Minggu.


Tanggal??

30 Mei 2010.


Ada kejadian apa hari ini?

Gue mimpi, gue mimpi amat sangat aneh.


Kenapa gue sampe bela-belain nulis ini Note?

Karena gue merasa gue harus nulis Note ini, entah kenapa..


Jadi bagaimana isi mimpi itu?

Begini ceritanya..


Seperti kebanyakan mimpi, gue gag bisa mengingat dengan jelas awal mulanya. Gue hanya ingat dari pertengahannya sampai gue bangun.

Mulai dari tokoh utamanya, yaitu gue. Lalu ada dua tokoh penting lain yang menurut gue gag akan bisa ada dalam satu frame dalam kehidupan gue. Kenapa bisa begitu? Karena mereka ini adalah dua orang yang menjadi bagian dari hari-hari gue di dua sisi hidup yang berbeda. Sangat jauh berlainan, mereka tidak dapat jadi satu. Oh ya, satu dari mereka adalah seorang laki-laki dan yang lainnya perempuan.

Lalu latar belakang dari mimpi ini adalah gue berteman dekat dengan sang perempuan, sama seperti di kehidupan nyata. Bedanya adalah di mimpi ini gue masih duduk di bangku SMA *alhamdullilah, saat ini gue udah kuliah*. Pertemanan gue sama sang perempuan ini gag ada sesuatu yang khusus, yah layaknya pertemanan biasa. Nothing special. But, entah kenapa perlakuan dia ke gue itu agak sedikit ‘berbeda’. Kenapa gue bisa bilang begitu? Karena terkadang sang perempuan memperlakukan gue selemah-lembut, sesopan-santun dan se-gentle mungkin. I love that but I can feel something different behind her treatment. Seperti ada yang disembunyikannya dibalik semua perlakuan dia ke gue. Gue bisa lihat dari matanya, yang selalu berkilat aneh tiap kali dia memandang gue. Lalu baru gue sadarin kalau perlakuan dia yang seperti itu ternyata khusus untuk gue doang, tidak untuk orang lain.

Saat gue mencoba untuk memahami, sebuah kenyataan telak menghantam gue. Ternyata dia memang berbeda. Maksud gue adalah orientasi seksualnya yang ber’belok’. Ngerti kan?? Maka dari itu gue mulai menjaga jarak dari dia. Gue bukannya mau ngejauhin tapi gue merasa gue harus melakukan itu, gue murni gag mau ada sesuatu yang buruk terjadi. Jujur, hanya itu. Lainnya tidak. Sejak itulah pertemanan gue dan sang perempuan sedikit merenggang. Gue memutuskan untuk gag duduk semeja lagi sama sang perempuan. Gue pindah.

Lalu tokoh lainnya, sang laki-laki. Dia.. bagaimana yah gue menggambarkannya? Dia ini adalah salah satu orang yang mempunyai space special in deep of my heart. Karena Dia ini adalah sang pahlawan dari masa kecil gue. Dia yang selalu mewarnai hari-hari gue dengan segala macam tindakan heroiknya. Mungkin Dia gag ingat, tapi tidak buat gue. Gue akan selalu mengingatnya, mungkin sampai gue mati nanti.

Disini sang laki-laki berperan sebagai seorang yang gue cintai tapi gag kesampaian. Bukan karena dia mengacuhkan gue, tapi memang karena Dia gag tahu. Dia memang gag tahu, gag akan gue biarkan Dia tahu kalau gue punya perasaan yang lebih untuk Dia. Semua gue simpan rapat-rapat jauh di dalam hati.

Kisah dalam mimpi ini dimulai saat gue mengetahui kenyataan kalau sang laki-laki berencana untuk menikah dalam waktu kurang dari seminggu *gue udah bilang kalau gue hanya ingat dari pertengahan, jadi anggap pertengahan ini sebagai awal cerita ini*. Gue yang mendengar hal itu langsung shock ampun-ampunan. Walau gue udah berkali-kali memperingatkan diri kalau gue gag bisa berharap apapun dari perasaan gue ke dia, tak urung berita itu tetap menghantam gue dengan telak macam palu godam. Gue merasa pijakan hidup gue limbung, seakan hidup gue bisa runtuh dalam sekejap kalau aja ada orang yang mendorong gue. Gue begitu menyesali berita itu, gue sakit hati. Gue terpuruk, tersungkur sejatuh-jatuhnya. Padahal gue tahu kalau hari ini, berita ini, akan datang cepat atau lambat.

Hari-hari gue tetap berlanjut seperti biasanya. Gue tetap beraktivitas layaknya gue yang biasa. Gue tetap bercengkrama dengan teman-teman gue *kecuali sang perempuan*, ngerjain tugas bareng, nyontek PR yang gag sempet gue kerjain *ketauan deh belangnya, XP*, shopping bareng di mal, jalan-jalan geje, de el el. Tapi jauh di dalam hati, gue menangis. Gue meratapi nasib gue, perasaan gue yang pada akhirnya gag bisa ngasih kebahagiaan apapun pada diri gue. Gue jatuh, terhempas ke dalam jurang kesedihan yang gag ada dasarnya *rada lebai deh!!!*. Semua itu gue sembunyikan dibalik topeng wajah gue yang ceria. Gag ada yang tahu. Yah, gue pikir begitu. Gag ada yang tahu. Tapi ternyata gue salah.

Sang perempuan tahu gue, sebaik dia mengetahui dirinya sendiri. Sang perempuan tahu gue jatuh dalam kondisi terparah dalam hidup gue. Dan pada saat itu sang perempuan mengulurkan tangannya, menyediakan bahunya untuk tempat gue menangis, memasang telinganya untuk mendengarkan cerita gue. Sang perempuan bertindak menjadi penyelamat dalam hidup gue yang terasa semakin mengambang tidak jelas. Sebelum gue tenggelam dalam arus yang ganas, dia sudah menarik gue ke permukaan. Memberikan gue kesempatan untuk kembali merasakan napas kehidupan.

Selanjutnya yang terlihat adalah gue tetap berusaha bertahan hidup dengan sokongan sang perempuan. Sedangkan Dia, sang laki-laki, gue tidak tahu kelanjutannya. Apakah Dia jadi menikah atau tidak, gue sungguh tidak tahu. Yang jelas, Dia tetap menempati tempatnya di hati ini. Gag berubah sedikit pun. Sampai akhirnya gue bangun dari tidur pun, keadaan tetap tidak berubah. Masih berlanjut, tidak berakhir. No ending.

Aneh?? Itu wajar, namanya juga mimpi. Gue juga merasa aneh kok. Gag jelas emang, tapi gue yakin mimpi itu punya pesan tersirat khusus untuk gue. Dari ceritanya yang non ending itu gue mendapat kesan kalau semua memang belum berakhir. Maksudnya, cerita hidup gue dengan kedua orang ini masih berlanjut. Tidak berakhir. Walau jalan hidup kita bertiga jauh dan berbeda-beda arah, gue yakin benang nasib di antara kita bertiga masih terjalin.

Gue dengan sang perempuan, begitu pun antara gue dengan Dia, sang laki-laki. Kita masih hidup, berada di negara yang sama, provinsi yang sama, walaupun berbeda daerah teritori. Tapi kita semua sudah terhubung satu sama lain, sejak kita saling mengenal *perkecualian untuk sang perempuan dan sang laki-laki, mereka berdua tidak saling kenal*. Gue merasa kalau gue diingatkan untuk tidak membuang ingatan tentang mereka berdua, walaupun semenyakitkannya bila gue tetap berhubungan dengan kedua orang itu. Lagipula, kedua orang ini sedang menjadi fokus gue belakangan ini.

Jadi, begitulah ceritanya. Silakan kalau kalian mau ngelemparin gue tomat busuk sehabis baca Note geje gag mutu bin abal-abal ini, haha.. *ketawa miris* Tapi, masih ada yang mengganjal pikiran gue. Karena ternyata masih ada lagi tokoh penting yang gue pikir menjadi kunci dalam mimpi gue ini. Siapakah dia?? Well, akan gue kasih tahu.

Tokoh itu hanyalah sesosok balita mungil *kalo gag mau disebut bayi* berjenis kelamin perempuan dengan mata hitam, berkulit putih cerah dan berambut ikal sepunggung yang membentuk per membingkai wajahnya dengan manis. Dan bayi perempuan ini selalu mengenakan baju berwarna hitam, yah setidaknya selalu mengandung unsur warna hitam, warna favorit gue. Pakaiannya selalu mempunyai model yang sama, gothic lollita. Jadi seperti orang yang mau CosPlay. Entah siapa yang memakaikannya pakaian seperti itu, gue gag tahu.

Hubungan antara anak perempuan itu dengan mimpi gue adalah gue selalu menemukan anak perempuan itu duduk di bangku gue di kelas setiap pagi. Dan setiap pagi kalau gue sampai di kelas, hal pertama yang gue lakukan setelah mengucapkan salam ke seisi kelas adalah membuka lengan gue lebar-lebar, menunggu anak perempuan itu berlari menghampiri gue dan membenamkan kepalanya yang mungil itu di leher gue. Di dalam pelukan gue, gue selalu menikmati aroma anak perempuan itu yang sangat manis, seperti permen. Walau dalam kenyataannya gue gag pernah tahan sama apapun yang berjudul ‘manis’, tapi untuk anak perempuan ini adalah sebuah pengecualian. Gue gag bisa hidup tanpa anak perempuan ini *di dalam mimpi*.

Kenapa gue bisa kasih statement seperti itu?? Karena hari-hari gue di dalam mimpi itu gag pernah gag ada anak perempuan itu di dalamnya. Karena anak perempuan itu memang tidak pernah lepas dari pelukan gue, baik dari awal sekolah sampai pulang lagi. Bahkan saat belajar pun, anak itu tetap dalam pelukan gue. Gue bukannya gag menyadari, tapi sepertinya teman-teman, guru-guru bahkan semua orang di sekitar gue juga pada aware sama anak perempuan itu. Dan anehnya gue gag merasa asing sama anak perempuan itu, gue merasa anak perempuan itu adalah bagian dari diri gue.

Sampai saat gue sadar pun gue masih merasakan sisa-sisa dirinya. Bentuk tubuhnya di pelukan gue, berat tubuhnya di lengan gue, sensasi geli di leher gue saat anak perempuan itu menyusupkan kepalanya, lembut kulitnya saat anak perempuan itu mengelus wajah dan tangan gue dengan tangannya yang mungil itu, genggaman kuat nan eratnya di leher gue, aroma manis yang menguar dari tubuhnya dan lainnya. Perasaan gue selalu menghangat setiap gue mengingat anak perempuan itu. Membuat gue bertanya-tanya, ‘siapa’kah gerangan anak perempuan itu? Atau mungkin, lebih tepatnya ‘apa’?

Dan yang lebih penting, kenapa kau mengecup bibirku, Belle?


Note : Semua tingkah laku yang ditunjukkin oleh tokoh-tokoh dalam mimpi gue ini gag semuanya sama persis. Yah, kan gag semuanya sama dengan yang di kehidupan nyata. Ingat, sekali lagi ini hanya mimpi!! Oke?! Jadi jangan keburu berpikiran yang ‘iya-iya’ dulu yah!! Kecuali untuk sang anak perempuan, dia murni hanyalah tokoh yang muncul dalam mimpi gue ini. Sama sekali bukan refleksi dari sosok balita manapun yang pernah gue tahu dan gue kenal selama kehidupan gue *ya iyalah, mana ada ibu-ibu yang makein anaknya baju model lollita begitu?*. Yosh, segitu aja dulu minna!! Kapan-kapan kalo ada yang seru, gue share lagi!!! Oh ya, thanks before buat yang udah meluangkan waktunya untuk membaca Note geje abal-abal bin gag mutu ini. Domo arigatou!!! o(_ _)o Kalau pada mau muntah, gue udah nyiapin kantong kresek kok *ngebagiin kantong kresek ke pembaca*.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar